Senin, 12 September 2011

-~- Siri' na Pacce Part 1 -~-


Takunjunga’ bangung turu’, nakugunciri’ gulingku, kualleangnga tallanga natoalia.
(Layarku telah kukembangkan. Kemudiku telah kupasang. Kupilih tenggelam daripada melangkah surut)
- Syair Sinrilik Makassar -
Tidak ada yang lebih berharga dari sebuah kehormatan. Sejak manusia diturunkan ke bumi, maka berulangkali kita membaca bahwa penegakan kehormatan terkadang menjadi asbab munculnya banyak kronik-kronik yang berlintasan di lini masa sejarah manusia. Perang dan penguasaan adalah salah satu kancah yang distimulus oleh penegakan kehormatan ini.

Glory, Gospel dan Gold yang menjadi semboyan penaklukan bangsa eropa terhadap benua asia dan amerika juga dilandasi oleh semangat menancapkan kehormatan sebagai manusia yang unggul. Demikian juga bagaimana Hitler dan partai Nazi nya meluluh lantakkan Eropa dan sebagian Asia dan Afrika hanya demi didorong oleh prasangka keunggulan ras yang notabene juga adalah sebuah representasi penegakan kehormatan primordial. Hal yang sama juga dikenal dalam kultur Jepang: semangat bushido.

Demikian juga dalam budaya Bugis Makassar (juga Mandar, Toraja dan Luwu dan semua derivasi sub-kultur yang terdapat di dalamnya), kehormatan yang kemudian tertuang dalam system social bernama Siri' na Pacce juga mengemuka sebagai dasar pijakan perihidup manusia Bugis Makassar. 

Kehormatan diri menjadi filosofi dasar bagaimana manusia Bugis Makassar menjalani hidupnya.
Tanpa kehormatan, tanpa siri na pesse ini, mereka menganggap tak layak hidup sebagai manusia. Hidup tanpa kehormatan bak hidup laiknya binatang, bahkan mereka berprinsip bahwa lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup dengan kehormatan tercabik-cabik. Siri’mi Narituo, narekko degage siri’na sirupaini olok-koloe (karena malu kita hidup, kalau tak ada malu maka tak ada beda dengan binatang).

Zainal Abidin Farid (1983 :2) membagi siri, dalam dua jenis:

Pertama adalah Siri’ Nipakasiri’, yang terjadi bilamana seseorang dihina atau diperlakukan di luar batas kemanusiaan. Maka ia (atau keluarganya bila ia sendiri tidak mampu) harus menegakkan Siri’nya untuk mengembalikan Dignity yang telah dirampas sebelumnya. Jika tidak ia akan disebut mate siri (mati harkat dan martabatnya sebagai manusia).
 
Yang kedua adalah : Siri’ Masiri’, yaitu pandangan hidup yang bermaksud untuk mempertahankan, meningkatkan atau mencapai suatu prestasi yang dilakukan dengan sekuat tenaga dan segala jerih payah demi Siri’ itu sendiri, demi Siri’ keluarga dan kelompok. Ada ungkapan bugis “Narekko sompe’ko, aja’ muancaji ana’guru, ancaji Punggawako” (Kalau kamu pergi merantau janganlah menjadi anak buah, tapi berjuanglah untuk menjadi pemimpin).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar